LDR : Jauhku : Jauhmu (2)

 BAB II
PARFUM

"Gapapa nangis aja, dunia nggak selamanya menjadi alasan kamu buat senyum" -Al

Hari ini, hari kedua Cilla sekolah. Entah mimpi apa Cilla semalam, tidak seperti biasanya, pagi ini ia bergegas turun kebawah untuk sarapan bersama papa, mama, dan adiknya.

"Pagii guysssss" sapanya ala selebgram

"Nggak sopan" ucap papanya datar

"Becanda pa" Cilla mengambil langkah lebih pelan dan duduk disamping Fathi

"Makanya sekolah yang bener, belajar tata krama, jangan bisanya cuma teriak-teriak" ujar papa Cilla "Liat tuh adikmu, pinter, juara umum, nggak suka ngerepotin orang tua" lanjutnya, seraya menatap Fathi dan Cilla bergantian

"Iya maaf ya bapak Masagus Rafiza" Cilla sedikit memutar bola matanya, sebenarnya ia sudah malas dengan semua drama di rumahnya ini

"Tuh kan kakak nggak sopan banget" Fathi yang menatapnya tajam

"Seharusnya kamu itu belajar dari adikmu, dia nggak pernah mengecewakan" kini giliran mamanya yang angkat bicara

Gadis yang selama ini hanya diam, memendam semuanya sendiri, kini sudah meluap-luap seperti akan meledak "Ma, Pa memangnya Cilla seburuk itu untuk kalian puji? atau Cilla terlalu busuk untuk menjadi sampah yang akan kalian banggakan nanti?"

"Cilla capek, Ma, Pa" kini dia mengambil posisi berdiri di samping kanan papanya, tentu saja dengan air mata yang membasahi pipinya

PLAAKKKKK!!!!

Tangan orang yang selalu ia jadikan panutan, kini melayang tepat di pipi kanannya. Cinta pertamanya? sepertinya tidak lagi, tidak lagi sejak adiknya Fathi dilahirkan ke bumi. Anak laki-laki yang selalu di banggakan oleh orang tuanya itu sedikit tak berkutik, sang penerus perusahaan papanya itu hanya memandangi Cilla dengan tatapan tajam. Seberuk itukah? Dosa besar apa yang telah ia lakukan selama ini?

Cilla tak bisa lagi mengelurkan kata-kata yang ada di fikirannya, sudah habis, ya, hanya 'capek' yang ada di kepalanya. Ia berlari meninggalkan orang yang selama ini sayangi, menuju halaman depan yang tentu saja sudah ada pak Bayu disana yang siap mengantarnya kemanapun pergi.

"Neng, kenapa nangis?" tanya pria yang berusia sekitar 40tahun itu sambil melajukan mobil Toyota LC milik papa Cilla

"Gapapa pak, tadi cuma kelilipan" elaknya dengan suara gagap

"yasudah kalo belum siap cerita, nangis dulu aja" ujarnya

Fikirannya kusut seperti kaset tua di rumah neneknya yang sudah lama didiamkan. Bingung, apa sebenarnya ingin orang tuanya jika selama ini Cilla selalu menuruti apa kata mereka. Sekolah di Cemara SHS? tidak, dia tidak menginginkan itu. Tapi demi mamanya kemanapun akan ia telusuri.

Disaat Cilla mencari ponsel didalam tasnya, tangannya meraba benda kotak, dingin, seperti sebuah parfum. Sialll, Cilla lupa mengembalikan parfum milik kakak kelasnya kemarin. "Ngebut pak, saya ada urusan di sekolah" pintanya kepada pak Bayu

Sesampai di sekolahnya, Cilla berlari bak dikejar hantu. Ia berlari ke kelas 12 MIPA 1 dengan wajah sembab dan pipinya yang merah

"Permisi kak, saya lagi nyari kak...." apesnya lagi ia tak tau siapa nama cowok yang memberinya parfum kemarin

"Aduh Cilla nggak tau siapa namanya, tapi yang pasti tubuhnya tinggi, kulitnya putih dan kayaknya anak osis" jelasnya pada gadis yang memakai pita biru di rambutnya

"cuma ada satu yang anak osis di sini, bentar gue panggilin" jawabnya "ALVIANNN ADA YANG NYARIIN" teriaknya terdengar seisi kelas

"siapa?" tanya Alvian, mengambil langkah lebih dekat kepada Cilla

"Lo apain tuh anak? kok kayak abis nangis gitu?" 
"Cieee yang lagi PDKT sama selebgram" 
"Tiati diliat Michel, mampus lo Al" 
"Ohh ini nihhh, ehemmm" 
Ucap teman-teman Alvian meldek pria yang memiliki wajah blasteran Australia itu.

"Kak, ini parfumnya kemarin. M-maaf yaa baru sempet balikin, soalnya kemarin keburu pulang" ujar Cilla dengan sangat menyesal

"Iya gapapa" ia menyeruput botol parfum dari tangan Cilla

"Terima kasih kak, saya pamit"

Entah sadar atau tidak, tapi yang pasti Alvian memandang lekat wajah Cilla yang mengingatkannya akan dirinya di 3 tahun lalu. Pergi ke sekolah dengan wajah lebam, wajah yang lusuh. Bukan tak terurus, bukan. Hanya saja keadaan keluarganya yang tak bisa membuatnya berlari dalam perjalanan dunia ini.

Alvian menarik tangan Cilla yang sudah jauh berlari meninggalkannya. Menatap lekat-lekat wajah gadis itu, memastikan apa yang terjadi pada wajah ayu nya itu.

"Kenapa nangis?"

"Nggak nangis kak, tadi kelilipan"

"Bohong" jeda 5 detik "Kenapa pipi merah?" lanjutnya

"ehh ini kak" Cilla memegang pipi nya yang masih terasa nyeri "Cuma make-up kak"

"Bohong lagi. Kamu kenapa? cerita aja gapapa"

Cilla yang tak pernah mendengar perkataan itu, tak pernah ada yang mengajaknya bercerita kecuali pak Bayu. Kali pertama Cilla merasakan perkataan yang tulus setelah bertahun lamanya. Kini tangisnya kembali pecah dalam dekapan Alvian, orang asing yang baru saja dikenalnya. Mungkin? atau belum kenalan?

"Nangis aja gapapa, dunia nggak selamanya menjadi alasan buat kamu tersenyum" ucapnya sambil menepuk pundak kecil Cilla yang sudah lama berdebu, karena tak ada satupun yang memeluknya.

"Kak terimakasih, maaf ngerepotin" kini ia dan Alvian berada di UKS guna mengobati pipi merahnya

"Nama gue Alvian Lesmana, panggil aja Al. Gue ketua osis dan ketua futsal di Cemara SHS" Ucap Alvian memperkenalkan diri, sedikit angkuh tapi Cool

"Gue Cilla, Masayu Arcilla Gistara Myisha anak sulung pengusaha properti terkenal di Jakarta. Gue dari kelas 10 MIPA 2" cilla membalas perkataan Alvian, yang kini membuat Alvian tertawa dengan tangan dilipat ke dadanya.

**
Sementara itu, di lapangan ada siswa Mipa 2 yang kebingungan mencari Cilla. Ada Radeva yang gelisah mencari dimana keberadaan teman barunya itu.

"Kemana sih si Cilla kok belum muncul" gumamnya, kesal.

"Pastiin semua anggota kelasnya lengkap. Hilang satu tanpa alasan, kalian semua saya hukum" Titah Haris, wakil ketua Osis

"10 mipa 2 kurang satu, saya tunggu 5 menit kalo nggak kalian semua saya hukum" sambungnya

"Dev, coba lo telpon si Cilla" Pinta Sania, gadis berkaca mata dengan salib yang menggantung di lehernya

"Nggak punya nomernya" jawab Radeva

"sisa satu menit" teriak Haris melalui speaker

"Mampus kita semua" pikir semua anak Mipa 2

**

"Kalo gitu lo disini aja, istirahat dulu, biar gue yang izinin. Kalo ada apa-apa telpon ke nomer gue, udah gue simpen di hp lo" titah Alvian yang kini sudah beranjak pergi dari hadapan Cilla.

-Author RumahKita


Komentar